Jumat, 02 Oktober 2015

Ikut Sahabat Ikut Keluarga




Saat kita kecil dulu, tempat pertama kita mengadu adalah keluarga. Seiring berjalannya waktu, tempat kita mengadu beralih kepada teman atau sahabat karib kita. Secara logis, teman atau sahabat yang dekat dengan kegiatan kita sehari-hari, yang seusia dengan kita, yang menjalani hal yang sama dengan kita, menghadapi problem yang sama dengan kita, sehingga kita merasa jauh lebih nyaman untuk bercerita dan sharing dengan mereka daripada dengan keluarga kita. Memang tidak seluruhnya benar demikian, masih ada orang-orang yang walau telah beranjak dewasa pun, mereka lebih dekat dan lebih suka bercerita kepada orang tua atau saudara sendiri.


Pertanyaannya, kerap kali kita diterpa pertanyaan, jika kita menghadapi masalah dan butuh saran maupun solusi, kepada siapakah kita harus menurut? Terutama jika saran yang diberikan sahabat karib kita bertolak belakang dengan saran yang diberikan oleh keluarga kita sendiri? Pernah kan mengalami yang demikian?


Pada dasarnya, sahabat karib dan keluarga kita adalah orang-orang yang tidak mungkin mencelakakan kita dengan memberi saran yang memjerumuskan. Dengan demikian, menurut pengalaman pribadi saya, lebih baik jika kita sendiri memiliki hubungan spiritual yang dekat dengan Sang Pencipta kita, sehingga dengan demikian, kita bisa diberikan kebijaksanaan untuk mengambil keputusan diantara dua saran tersebut.


Mengapa harus mengikutkan konsep spiritual segala sih dalam pengambilan keputusan? Jangan memandang sebelah mata hasil yang didapat jika kita mau berserah pada Sang Pencipta. Banyak orang yang selalu menyesali keputusan-keputusannya, hal ini tidak akan terjadi apabila kita selalu menyandarkan diri kepada Sang Pencipta. Bukan berarti otomatis kita menjadi orang yang tidak dapat menyesali keadaan, tapi perspektif kita dalam memandang masalah dan keputusan yang kita ambil akan berbeda dan lebih dewasa.


xoxo,

Twinkle

Tidak ada komentar:

Posting Komentar